Prof. Mia Amiati: Mengenal Pohon Pule

    Prof. Mia Amiati: Mengenal Pohon Pule

    Jakarta - Menurut Wikipedia Indonesia, Pulai atau Pule adalah nama pohon jenis tanaman keras yang hidup di pulau Jawa dan Sumatra, dengan nama Botani Alstonia Scholaris. Pohon ini dari dikenal juga dengan nama lokal pule, kayu gabus, lame, lamo dan jelutung.

    Kualitas kayunya tidak terlalu keras dan kurang disukai untuk bahan bangunan karena kayunya mudah melengkung jika lembab, tetapi banyak digunakan untuk membuat perkakas rumah tangga dari kayu dan ukiran serta patung. Pohon ini banyak digunakan untuk penghijauan karena daunnya hijau mengkilat, rimbun dan melebar ke samping sehingga memberikan kesejukan. Kulitnya digunakan untuk bahan baku obat. berkhasiat untuk mengobati penyakit radang tenggorokan dan lain-lain.

    Pohon pule (alstonia scholaris), juga dikenal sebagai pulai atau devil tree, merupakan spesies pohon yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis tinggi di Asia Tenggara. Pohon ini dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 40 meter dengan diameter batang mencapai 125 cm, menjadikannya salah satu pohon tertinggi di habitatnya. Daunnya yang hijau gelap dan mengkilap, tersusun dalam bentuk spiral pada cabang-cabangnya, memberikan kesan rimbun dan teduh, sehingga sering dijadikan sebagai pohon peneduh di taman-taman kota dan area publik.

    Selain nilai estetikanya, pohon pule juga dikenal memiliki berbagai manfaat dalam pengobatan tradisional di beberapa negara Asia. Kulit batang dan daunnya mengandung alkaloid yang telah digunakan secara turun-temurun untuk mengobati berbagai penyakit seperti malaria, disentri, dan gangguan pencernaan. Namun, penggunaan ekstrak pohon pule untuk tujuan pengobatan harus dilakukan dengan hati-hati dan di bawah pengawasan ahli, karena beberapa kandungan kimianya dapat bersifat toksik jika dikonsumsi dalam dosis yang tidak tepat.

    Dari segi ekonomi, kayu pohon pule memiliki nilai komersial yang cukup tinggi karena karakteristiknya yang ringan namun kuat, menjadikannya bahan ideal untuk pembuatan perabotan, alat musik, dan kerajinan tangan.

    Pohon pulai, yang juga dikenal luas sebagai pohon pule, merupakan spesies tumbuhan berkayu dengan karakteristik batang yang sangat padat dan kokoh. Tanaman ini, yang dalam dunia ilmiah dikenal dengan nama Latin Alstonia Scholaris, termasuk dalam famili Apocynaceae yang memiliki banyak anggota dengan potensi medis.

    Persebaran pohon ini cukup luas, mulai dari wilayah timur Tiongkok, melintasi subkontinental India, menjangkau berbagai negara di Asia Tenggara, hingga mencapai pesisir utara benua Australia, menunjukkan kemampuan adaptasinya terhadap berbagai kondisi iklim tropis dan subtropis. Di lingkungan perkotaan yang padat, pohon pule umumnya tumbuh mencapai ketinggian sekitar 20 meter dengan lebar kanopi sekitar 10 meter, menjadikannya pilihan populer untuk penghijauan kota dan penyedia naungan alami. Namun, ketika berada dalam habitat alaminya di hutan-hutan primer, pohon ini mampu mencapai ketinggian yang jauh lebih impresif, yakni antara 40 hingga 50 meter, menjulang di antara kanopi hutan tropis.

    Identifikasi pohon pule dapat dilakukan dengan mengamati struktur batangnya yang bercabang secara khas, kulit kayu berwarna cokelat dengan tekstur yang tidak rata dan cenderung kasar, serta keberadaan getah putih seperti susu yang keluar ketika kulit kayunya tergores, suatu ciri khas yang juga dimiliki oleh beberapa anggota famili Apocynaceae lainnya.

    Daun pohon pule memiliki karakteristik yang menarik, dengan bagian atas berwarna hijau tua yang mengilap, sementara permukaan bawahnya menampilkan warna hijau pucat cenderung keabu-abuan, menciptakan kontras yang indah ketika tertiup angin. Bentuk daunnya lonjong elips dengan ujung meruncing, memiliki permukaan atas yang licin dan mengkilap, serta pola pertulangan daun menyirip yang jelas terlihat.

    Panjang daun pohon ini bervariasi, umumnya berkisar antara 10 hingga 23 sentimeter, menjadikannya cukup besar untuk ukuran daun pohon tropis. Keunikan lain dari pohon pule terletak pada bunganya yang hadir dalam beragam warna, mulai dari putih bersih, kuning lembut, krem dengan sentuhan hijau, hingga hijau cerah yang menyegarkan.

    Bunga-bunga ini memancarkan aroma yang kuat dan harum, menjadikannya daya tarik bagi berbagai jenis serangga penyerbuk. Selain itu, pohon ini menghasilkan biji dalam jumlah besar yang memiliki karakteristik unik – berukuran kecil, berbentuk pipih, dan dilengkapi dengan rambut-rambut halus di ujungnya yang membantu penyebaran biji oleh angin ke area yang luas.

    Di berbagai belahan dunia, pohon pule dikenal dengan beragam nama lokal yang mencerminkan karakteristik atau kepercayaan setempat tentang pohon ini. Sebutan “white cheesewood” merujuk pada warna kayunya yang pucat, sementara “blackboard tree” mengacu pada penggunaan tradisional kayunya untuk membuat papan tulis.

    Julukan yang lebih kontroversial adalah “pohon iblis” atau “devil’s tree”, sebuah nama yang berasal dari kepercayaan bahwa berbagai bagian pohon ini dapat membahayakan manusia atau hewan jika tidak digunakan dengan tepat. Meskipun demikian, pandangan ini cenderung terlalu menyederhanakan sifat kompleks dari pohon pule.

    Faktanya, di balik reputasi yang kontroversial ini, pohon pule menyimpan potensi manfaat yang luar biasa, terutama dalam bidang kesehatan dan pengobatan tradisional. Berbagai penelitian modern telah mulai mengungkap kandungan bioaktif dalam kulit kayu, daun, dan getah pohon ini yang memiliki sifat anti-inflamasi, anti-malaria, dan bahkan potensi anti-kanker, menunjukkan bahwa “pohon iblis” ini mungkin justru menyimpan kunci untuk berbagai solusi pengobatan di masa depan.

    Apa saja Manfaat Pohon Pule?

    1. Manfaat ekologis dan lingkungan

    • Pohon Pule dapat menyerap karbon : Seperti tanaman lainnya, pohon pule berperan dalam penyerapan karbon dioksida dan pelepasan oksigen, membantu menyegarkan udara dan menjaga kelestarian lingkungan.
    • Peneduh dan estetika : Karena tumbuh tinggi dan rindang, pohon pule sering digunakan sebagai tanaman peneduh di taman kota, area publik, dan halaman rumah, menciptakan lingkungan yang lebih asri.
    • Menarik serangga penyerbuk : Bunga pule menghasilkan nektar yang menarik kupu-kupu dan lebah, membantu penyerbukan.

    2. Manfaat kesehatan (pengobatan tradisional)

    • Mengobati malaria : Kulit batang pohon pule, yang terkenal dengan rasa pahitnya yang khas, mengandung alkaloid yang telah terbukti memiliki sifat anti-malaria. Kandungan ini, terutama alkaloid seperti echitamine dan scholaricine, telah menarik perhatian peneliti sebagai potensi pengganti atau pelengkap kina dalam pengobatan malaria. Studi farmakologis modern terus mengeksplorasi efektivitas dan keamanan ekstrak pule ini, membuka jalan bagi pengembangan obat anti-malaria baru yang lebih terjangkau dan mudah diproduksi secara lokal di daerah endemik malaria.
    • Dapat meredakan demam : Dalam pengobatan tradisional, kulit bagian dalam pohon pule dimanfaatkan sebagai obat penurun demam yang efektif. Cara pengaplikasiannya yakni mulai dengan pengikisan kulit luar untuk mengekspos bagian dalam yang kaya akan senyawa bioaktif. Kulit pohon yang telah dibersihkan kemudian direbus bersama dengan sepotong kecil kayu putih untuk meningkatkan khasiatnya dan biji jintan yang dikenal memiliki sifat anti-inflamasi.
      Ramuan herbal ini biasanya dikonsumsi setiap empat jam sekali dengan dosis yang direkomendasikan antara 15-20 mililiter, menawarkan pendekatan holistik untuk menurunkan suhu tubuh dan meredakan gejala demam. Efektivitasnya yang telah teruji secara empiris selama generasi menjadikan ramuan ini pilihan populer dalam pengobatan rumahan di banyak komunitas.
    • Mencegah obesitas dan menurunkan kolesterol : Ekstrak dari kulit dan daun pohon pule telah menarik perhatian dalam penelitian kesehatan modern karena potensinya dalam mencegah obesitas dan menurunkan kadar kolesterol. Metode tradisional melibatkan penumbukan kedua bagian tanaman ini untuk mengekstrak senyawa bioaktifnya secara optimal. Kandungan betulin dan lupeol asetat yang ditemukan dalam pohon pule berperan penting dalam regulasi metabolisme glukosa, membantu menurunkan kadar gula darah serta menjaga kesehatan pankreas.
      Selain itu, senyawa-senyawa ini juga menunjukkan efek positif terhadap profil lipid, menawarkan pendekatan alami untuk manajemen kolesterol. Penelitian lebih lanjut sedang dilakukan untuk mengembangkan suplemen atau obat berbasis pule yang dapat membantu dalam pencegahan dan pengelolaan penyakit metabolik.
    • Dapat meredakan nyeri dada :  Dalam praktek pengobatan tradisional, batang pohon pule digunakan sebagai salah satu bahan untuk mengurangi nyeri di area dada. Proses penggunaannya melibatkan pembersihan menyeluruh batang pohon untuk menghilangkan kontaminan, diikuti dengan pengunyahan bersama daun pinang yang dikenal memiliki sifat analgesik alami.
      Kombinasi ini dipercaya memiliki efek sinergis dalam meredakan berbagai jenis nyeri dada, termasuk yang disebabkan oleh ketegangan otot atau gangguan pernapasan ringan. Meskipun metode ini telah digunakan secara turun-temurun di beberapa komunitas, penting untuk dicatat bahwa nyeri dada yang disebabkan karena patah hati ditinggal pacar atau dikhianati pasangan, itu agak sulit meramu batang pohon pule menjadi obat Penawar sakit dadanya.

    3. Manfaat Ekonomi dan Industri

    • Bahan baku kerajinan : Kayunya yang ringan dan kuat cocok digunakan untuk membuat berbagai kerajinan tangan, seperti ukiran, wayang golek, dan furniture.
    • Bahan konstruksi : Kayunya yang lunak juga dimanfaatkan untuk konstruksi ringan seperti papan tulis, bangku, dan atap.

    Sejarah Pohon Pule

    Pohon pule (Alstonia scholaris) memiliki sejarah panjang dalam pengobatan tradisional Indonesia dan manfaat multifungsi, seperti sebagai tanaman peneduh, bahan baku kerajinan, dan obat-obatan herbal untuk demam, malaria, dan masalah pencernaan. Secara sejarah, pohon ini dikenal dengan berbagai nama dan mitos, sementara manfaatnya meliputi aspek ekologi (penyerapan karbon dan oksigen), ekonomi (kayu), dan kesehatan (sifat antipiretik, anti-inflamasi, dan lainnya).

    Berdasarkan catatan historisnya, Sejarah Pohon Pule dapat dijelaskan sebagai berikut :

    • Nama historis : Pohon pule juga dikenal sebagai Alstonia scholaris atau “pohon cendekiawan” karena dahulu sering digunakan sebagai bahan papan tulis untuk sekolah.
    • Nama mitos : Di beberapa daerah, pohon ini dijuluki “pohon iblis” (The Devil’s Tree) karena adanya kepercayaan lokal bahwa pohon ini menjadi tempat tinggal roh jahat atau menyimpan benda gaib.
    • Asal usul nama : Nama “Alstonia scholaris” diberikan untuk menghormati Charles Alston, seorang profesor botani di Universitas Edinburgh.

    Ciri-ciri utama

    • Batang : Cenderung lurus, bisa mencapai tinggi 20-40 meter, dengan kulit kayu berwarna cokelat yang kadang bertekstur tidak rata. Batang tua mudah rapuh dan sering memiliki pori-pori (lentisel).
    • Daun : Berbentuk lonjong dan berwarna hijau mengkilap di bagian atasnya, sementara bagian bawahnya lebih pucat. Daun tersusun dalam lingkaran pada setiap ruas batang.
    • Bunga : Mekar secara bergerombol di ujung tangkai, beraroma harum, dan bisa berwarna putih, kuning, atau krem.
    • Buah : Berbentuk ramping memanjang dan akan berubah warna dari hijau menjadi cokelat saat matang.
    • Getah : Mengeluarkan getah berwarna putih seperti susu saat kulit kayunya luka.

    Ada Cerita Mitos Apa di Balik Pohon Pule?

    Mitos dan kepercayaan

    Di beberapa budaya, pohon pule dipercaya memiliki makna mistis dan sering dikaitkan dengan hal-hal gaib, kadang dijuluki “pohon iblis”. Karakteristik gaib ini mungkin karena penampilan fisik pohon yang besar dan penampilan mistis yang dikaitkan oleh masyarakat sekitar.

    Adapun beberapa cerita Pohon pule yang memiliki cerita mitos dan legenda yang terkait dengan kepercayaan masyarakat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, adalah :

    • Mitos tentang asal usul pohon pule : Menurut mitos, pohon pule berasal dari air mata dewa yang jatuh ke bumi. Dewa tersebut menangis karena kesedihan dan air matanya berubah menjadi pohon pule.
    • Mitos tentang kekuatan magis : Pohon pule diyakini memiliki kekuatan magis yang dapat melindungi manusia dari kejahatan dan bahaya. Masyarakat di beberapa daerah di Indonesia percaya bahwa pohon pule dapat mengusir hantu dan jin.
    • Mitos tentang hubungan dengan dewa : Pohon pule diyakini memiliki hubungan dengan dewa-dewa di mitologi Hindu dan Buddha. Masyarakat di beberapa daerah di Indonesia percaya bahwa pohon pule adalah tempat tinggal dewa-dewa tersebut.
    • Mitos tentang kesuburan : Pohon pule diyakini memiliki kekuatan untuk meningkatkan kesuburan dan kemakmuran. Masyarakat di beberapa daerah di Indonesia percaya bahwa pohon pule dapat membantu meningkatkan hasil panen dan kemakmuran.
    • Mitos tentang perlindungan : Pohon pule diyakini memiliki kekuatan untuk melindungi manusia dari bahaya dan kejahatan. Masyarakat di beberapa daerah di Indonesia percaya bahwa pohon pule dapat melindungi mereka dari serangan binatang buas dan kejahatan lainnya.

    Namun, perlu diingat bahwa mitos dan legenda tentang pohon pule dapat berbeda-beda tergantung pada daerah dan budaya Masyarakat setempat yang jelas pohon pule banyak manfaatnya untuk Kesehatan manusia dan melestarikan lingkungan yang asri.@Red. 

    Oleh: Prof. (HCUA) Dr. Mia Amiati, S.H., M.H., CMA., CSSL.

    Salsa

    Salsa

    Artikel Sebelumnya

    Sekolah Lansia, Bukti Belajar Tanpa Batas...

    Artikel Berikutnya

    Mahasiswa Politani Kupang Tertarik Pelajari...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Kerahkan 21.707 Personel dan Beragam Alutsista, TNI AD Perkuat Bantuan Kemanusiaan di Sumatera
    TNI–Polri Gelar Patroli Gabungan Perketat Keamanan Puncak Jaya
    Satgas Gulben Kodam I/BB Berhasil Temukan dan Evakuasi Jenazah Korban Banjir di Tapanuli Selatan
    TNI AL Kerahkan KRI dan Helikopter untuk Bantu Korban Bencana di Aceh, Sumut dan Sumbar
    Ribuan Warga Masyarakat Meriahkan Open Base Lanud Sultan Hasanuddin 2025

    Ikuti Kami