Prof. Mia Amiati: Legenda Curug Nyi Mas Nyai

    Prof. Mia Amiati: Legenda Curug Nyi Mas Nyai

    Jakarta - Legenda Curug Nyi Mas Nyai Ratu (atau lebih dikenal Curug Nyi Nyai Ratu) terkait dengan kisah Nyi Mas Gandasari, seorang putri sakti yang memiliki kecantikan luar biasa dan kesaktian tinggi, seorang srikandi sakti dari Cirebon. Nyi Mas Gandasari diyakini sebagai murid Sunan Gunung Jati dan memiliki peran penting dalam menyebarkan agama Islam di Cirebon.

    Nyi Mas Ratu Gandasari, yang merupakan putri angkat Sunan Gunung Jati, di mana ia melarikan diri dan penghormatan setiap tahun, diadakan haul (peringatan) untuk menghormati Nyi Mas Gandasari di situsnya, menunjukkan betapa kuatnya legenda dan pengaruhnya dalam budaya Cirebon.

    Berdasarkan Wikipedia Indonesia, Nyi Mas Gandasari adalah adalah seorang putri Sayyid Sholeh /Mbah Datuk Sholeh (dalam Babad Cirebon) atau bernama sebenarnya Sultan Shalahuddin (berkuasa 1438 – 1462 M) dari Kesultanan Samudera Pasai Aceh (Fekri Juliansyah: Napak Tilas Para Puyang: 2023) yang dibawa oleh Ki Kuwu Cirebon ke Jawa untuk mengislamkan kerajaan Galuh yang pada saat itu kuasai oleh raja Prabu Cakra Ningrat yang Notabene masi bagian dari wilayah Kerajaan Galu Pakuan Pajajaran.

    Nyai Mas Gandasari berupaya dengan beberapa cara, yaitu menyamar (berubah wujud) menjadi perempuan cantik dan oleh Syech Syarif Hidayahtullah diberi sebutan Nyi Mas Ratu Ayu Gandasari. Nyai Mas Gandasari sering juga di sebut sebagai anak angkat dari sultan cirebon yang pada massa itu adalah Syec Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.

    Epos yang menarik adalah kisah Sayembara Nyai Mas Gandasari “Barang siapa yang bisa mengalahkan Nyai Mas Gandasari maka dia akan menjadi suami Nyai Mas Gandasari“.

    Pada massa di wewengkon kesultanan Cirebon banyak daerah yang dipimpin oleh Tumanggung yang pada waktu itu disebut dengan julukan KI Gede. Ki Gede yang ikut sayembara pada saat itu dinataranya adalah Ki gede Palimanan dan Ki Gede Baya Langu. Karena kecantikan dan kemolekan Nyai Mas Gandasari sampai–sampai Raden Said Sunan Kali Jogo Pangeran Seda ing lepen pun ikut dalam sayembara tersebut, Dikisahkan dalam pertarungan dengan Ki Gede Palimanan, Ki Gede Palimanan berubah wujud menjadi raksasa, akan tetapi Nyai Mas Gandasari tetap bisa menggalahkan Ki gede Palimanan. Ketika bertarung dengan Ki Gede Baya Langu, Nyai Mas Gandasari mengajukan syarat agar dibuatkan dua buah Bale (ranjang tempat istirahat) dengan kemampuan ki Gede Baya Langu yang luar biasa maka Ki Gede Baya Langu menyanggupinya dengan perjanjian pembuatan bale tersebut pada malam hari.

    Sejak Matahari terbenam, Ki Gede mulai memproses pembuatan Bale, Ki Gede Baya Langu sangat sakti sehingga Ki Gede Baya Langu dengan dibantu oleh Jin yang sangat banyak untuk mencari kayu jati sebagai bahan Bale, singkat Cerita ki Gede Baya Langu hampir menyelesaikan dua bale tersebut, Nyai Mas Gandasari tidak suka dengan ki Gede Baya Langu karena sifatnya yang ponggah sombong, sehingga mengibarkan selendang kuning, seketika langgit seperti fajar, secara reflek ayam jantan berkokok pertanda waktu fajar tiba, maka dengan seketika pula gagalah Ki Gede Baya Langu dalam Sayembara tersebut.

    Sayembara Nyai Mas Gandasari di menangkan oleh Pangeran Soka Syec Magelung Sakti (remagelung) yang saat ini makbarohnya di Desa Karang Kendal Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon.

    Menurut legenda, Nyi Mas Gandasari memiliki hubungan dengan Pangeran Ucuk Umun, seorang tokoh yang memiliki kesaktian tinggi namun memiliki hati yang kejam. Pangeran Ucuk Umun diyakini sebagai musuh para Wali Songo dan sering menyesatkan masyarakat dengan bujuk rayunya.

    Nyi Mas Gandasari kemudian memutuskan untuk meninggalkan Pangeran Ucuk Umun dan kembali ke keraton. Namun, Pangeran Ucuk Umun sangat marah dan mengejar Nyi Mas Gandasari, dimana kemudian Nyi Mas Gandasari melarikan diri ke sebuah gua dan bersembunyi di sana. Pangeran Ucuk Umun kemudian menemukan gua tempat Nyi Mas Gandasari bersembunyi dan mencoba untuk menangkapnya. Namun, Nyi Mas Gandasari memiliki kesaktian tinggi dan dapat mengubah dirinya menjadi air. Air yang keluar dari gua tersebut kemudian menjadi curug (air terjun) yang dikenal sebagai Curug Nyi Mas Nyai. Legenda ini menjadi salah satu kisah yang terkait dengan Curug Nyi Mas Nyai dan menjadi bagian dari budaya masyarakat sekitar.

    Jadi, legenda ini bukan tentang air terjun dalam arti fisik biasa, melainkan tentang petilasan dan situs keramat yang terkait dengan sosok legendaris Nyi Mas Gandasari, yang dijuluki “Nyi Mas Ratu“.

    Apa Makna Fiulosofis di Balik Kisah Legenda Curug Nyi Mas Nyai?

    Filosofi dari Curug Nyi Mas Nyai terkait dengan kisah Nyi Mas Gandasari, seorang putri sakti yang memiliki kecantikan luar biasa dan kesaktian tinggi. Berikut beberapa filosofi yang dapat dipetik hikmahnya dari Curug Nyi Mas Nyai:

    Kekuatan Perempuan

    Nyi Mas Gandasari merupakan simbol kekuatan perempuan yang memiliki kesaktian tinggi dan kecantikan luar biasa. Curug Nyi Mas Nyai dapat diartikan sebagai simbol kekuatan perempuan yang dapat mengatasi kesulitan dan tantangan.

    Cinta dan Pengorbanan

    Kisah Nyi Mas Gandasari dan Pangeran Ucuk Umun dapat diartikan sebagai simbol cinta dan pengorbanan. Nyi Mas Gandasari rela mengorbankan dirinya untuk meninggalkan Pangeran Ucuk Umun dan kembali ke keraton.

    Kesabaran dan Ketabahan

    Nyi Mas Gandasari menunjukkan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. Curug Nyi Mas Nyai dapat diartikan sebagai simbol kesabaran dan ketabahan yang dapat membantu kita menghadapi kesulitan hidup.

    Kebebasan dan Kemerdekaan:

    Nyi Mas Gandasari memilih untuk meninggalkan Pangeran Ucuk Umun dan kembali ke keraton, menunjukkan kebebasan dan kemerdekaan dalam membuat pilihan hidup.

    Spiritualitas dan Koneksi dengan Alam

    Curug Nyi Mas Nyai dapat diartikan sebagai simbol spiritualitas dan koneksi dengan alam. Nyi Mas Gandasari memiliki kesaktian tinggi dan dapat berkomunikasi dengan alam, menunjukkan pentingnya koneksi dengan alam dalam hidup kita.

    Filosofi dari Curug Nyi Mas Nyai dapat diartikan sebagai simbol kekuatan, cinta, kesabaran, kebebasan, dan spiritualitas.@Red. 

    Oleh: Prof. (HCUA) Dr. Mia Amiati, S.H., M.H., CMA., CSSL.

    Salsa

    Salsa

    Artikel Sebelumnya

    Perhutani Bondowoso Dukung Pengamanan Nataru...

    Artikel Berikutnya

    Satgas Ops Lilin Semeru Polda Jatim Cek...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Rayakan Harlah Serikat Karyawan, Perhutani Banyuwangi Barat Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Donor Darah
    Perhutani Padangan Gelar Sosialisasi Penerapan K3L pada Lokasi Tebangan
    Peringati Harlah Sekar ke-21, Perhutani Bagikan Ratusan Paket Makanan Bergizi pada Masyarakat
    Apel Peringati Harlah Sekar ke-21 Perhutani Banyuwangi Barat
    Perhutani Probolinggo dan Tim KJPP Gelar Opening Meeting

    Ikuti Kami