Sulteng - Sekitar 32 kilometer sebelah utara Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Sulawesi Selatan, terdapat gugusan tebing-tebing karst yang membentang seluas 42.000 hektare.
Rammang-Rammang, nama gugusan karst ini, adalah salah satu situs dalam kawasan UNESCO Global Geopark, Maros Pangkep Geopark, yang sangat cocok dikunjungi oleh para petualang alam yang merupakan destinasi wisata alam yang cukup memarik.
Maros Pangkep UNESCO Global Geopark
Mengutip dari laman Indonesia.go.id, Maros Pangkep UNESCO Global Geopark adalah kawasan dengan unsur-unsur geologi terkemuka (outstanding) termasuk nilai arkeologi, ekologi, dan budaya yang secara administratif meliputi wilayah darat seluas 223.629 hektare dan Kepulauan Terumbu Karang Spermonde seluas 88.965 hektare.
|
Baca juga:
Prof. Mia Amiati: Mengenal Pohon Pule
|
Gugusan tebing karst Rammang-Rammang adalah satu dari 31 situs geologi yang ada di dalam kawasan geopark ini.
Meski demikian, Rammang-Rammang sangat istimewa karena area ini merupakan kawasan karst terbesar kedua di dunia, setelah South China Karst di Tiongkok.
Rammang-Rammang awalnya berawal dari perjuangan masyarakat untuk melindungi kawasan karst dari ancaman penambangan batu kapur pada tahun 2008-2013. Setelah berhasil melindungi kawasan ini, masyarakat setempat sepakat menjadikan area tersebut sebagai objek wisata dan mulai membuka secara resmi pada tahun 2015.
Untuk menjelajahi lanskap hijau nan megah ini, para wisatawan bisa berjalan kaki atau menaiki perahu menyusuri sungai Puteh di kawasan hutan tebing karst ini.
Apa artinya rammang-rammang?
Nama Rammang-Rammang diambil dari bahasa Makassar yang berarti awan atau kabut. Menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata Rammang-Rammang, Muhammad Ikhwan (atau Iwan Dento), penamaan ini merujuk pada kondisi alam sekitar gugusan karst, yang mana selalu diselimuti awan atau kabut tebal pada pagi hari.
Kawasan luas ini didominasi oleh formasi batu-batu kapur yang menjulang setinggi 100 meter, dengan alas daratan berupa hamparan sawah-sawah hijau milik penduduk desa setempat serta sungai-sungai kristal yang mengalir di antaranya.
Selain itu, di kawasan ini juga terdapat tambak, perkebunan, permukiman warga, air terjun, sekitar 1.250 gua bersejarah, 1.340 flora dan fauna, serta 123 kebudayaan masyarakat lokal.
Sejarah Rammang-Rammang
Berawal dari nama dalam bahasa Makassar yang berarti “awan” atau “kabut”, merujuk pada kondisi alamnya yang sering berkabut. Dahulu, area ini pernah menjadi lokasi penambangan batu kapur sebelum akhirnya warga berjuang dan berhasil mencabut izin tersebut. Sejak itu, warga setempat sepakat untuk mengembangkan Rammang-Rammang menjadi destinasi wisata yang menawarkan keindahan alam karst, ditambah kekayaan sejarah prasejarah berupa lukisan tangan purba di dalam gua-gua.
Sejarah awal dan penamaan
- Nama : Berasal dari bahasa Makassar, “Rammang-Rammang” berarti “awan” atau “kabut“, karena kondisi alamnya yang sering diselimuti awan tebal di pagi hari.
- Lokasi : Rammang-Rammang terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Sejarah modern dan pengembangan wisata
- Penambangan : Sebelum menjadi objek wisata, kawasan ini sempat menjadi lokasi penambangan batu kapur oleh perusahaan asing pada tahun 2008.
- Perjuangan warga : Warga lokal berjuang untuk menghentikan aktivitas penambangan karena dianggap akan merusak alam, dan berhasil mencabut izin penambangan pada tahun 2013.
- Pengembangan wisata : Setelah izin penambangan dicabut, warga setempat sepakat untuk mengubah Rammang-Rammang menjadi objek wisata.
- Pengelolaan : Pada tahun 2015, warga berhasil mendorong lahirnya Peraturan Desa dan Surat Keputusan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Maros tentang pengelolaan kawasan Rammang-Rammang sebagai objek wisata.
Nilai sejarah dan arkeologi
- Gua prasejarah : Rammang-Rammang menyimpan nilai sejarah prasejarah yang kaya karena adanya gua-gua yang berisi lukisan tangan manusia purba, seperti yang ditemukan di Gua Harimau, Gua Jepang, dan Gua Tiangko.
Apa Makna Filosofis Mengunjungi Tempat wisata Ramang-Ramang ?
Dengan Mengunjungi Tempat wisata Ramang-Ramang di Sulawesi Selatan, memiliki makna filosofis yang dalam dan luas. Berikut beberapa makna filosofis yang terkait dengan Ramang-Ramang, antara lain :
Dengan Mengunjungi Tempat wisata Ramang-Ramang di Sulawesi Selatan, memiliki makna filosofis yang dalam dan luas. Berikut beberapa makna filosofis yang terkait dengan Ramang-Ramang, antara lain :
1. Keseimbangan Alam
Ramang-Ramang adalah contoh keseimbangan alam yang sempurna, dengan hutan yang lebat, sungai yang jernih, dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Ini mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam dan lingkungan.
2. Kesederhanaan Hidup
Ramang-Ramang adalah tempat yang sederhana dan jauh dari kemewahan, mengajarkan kita tentang pentingnya kesederhanaan hidup dan mengurangi kebutuhan yang tidak perlu.
3. Keterhubungan dengan Alam
Ramang-Ramang adalah tempat yang membuat kita merasa terhubung dengan alam, mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga hubungan dengan alam dan lingkungan.
4. Kehidupan harmonis
Kawasan ini juga menjadi contoh kehidupan masyarakat yang harmonis dengan alam, di mana masyarakat lokal menerapkan praktik pertanian berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan alam
5. Kesadaran akan Kehidupan
Ramang-Ramang adalah tempat yang membuat kita sadar akan kehidupan dan keindahan alam, mengajarkan kita tentang pentingnya menghargai kehidupan dan keindahan alam.
6. Perjalanan Spiritual
Ramang-Ramang adalah tempat yang sering digunakan sebagai tempat perjalanan spiritual, mengajarkan kita tentang pentingnya mencari makna hidup dan hubungan dengan Tuhan.
Dalam filosofi Bugis, Ramang-Ramang juga terkait dengan konsep “Siri‘”, yang berarti “harga diri” atau “kehormatan“. Ramang-Ramang adalah tempat yang membuat kita merasa bangga dengan diri sendiri dan lingkungan, mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga harga diri dan kehormatan.
Dengan demikian, Ramang-Ramang adalah tempat yang memiliki makna filosofis yang dalam dan luas, mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam, kesederhanaan hidup, keterhubungan dengan alam, kehiduoan harmonis, kesadaran akan kehidupan, dan perjalanan spiritual.@Red.
Oleh: Prof. (HCUA) Dr. Mia Amiati, S.H., M.H., CMA., CSSL.

Salsa