Jakarta - Peringatan Hari Ibu di Indonesia merupakan momen penting untuk menghargai jasa serta pengorbanan seorang ibu. Peringatan Hari ibu tidak hanya menjadi simbol untuk merayakan peran ibu dalam keluarga, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya kedudukan ibu dalam pembangunan bangsa.
Ibu adalah sesosok figur yang memperlihatkan keagungan dan kasih sayang yang tidak bisa diukur dengan apapun dan sudah sepantasnya kita selalu menanamkan kepada diri kita untuk berbakti kepada ibu. Hari Ibu bukanlah sekadar hari untuk mengenang hari-hari bahagia bersama ibu kita, bukan juga hanya diperuntukan untuk para ibu rumah tangga atau mereka yang sudah mempunyai anak. “Ibu” di sini mempunyai arti yang luas, sehingga Hari Ibu merupakan hari spesial untuk para perempuan, khususnya perempuan Indonesia.
Syurga ada di telapak kaki ibu, doa seorang ibu sangat makrifat bagi anak-anaknya, Doa orang tua kepada anaknya diijabah karena rasa sayang orang tua yang tulus kepada anaknya, dan orang tua banyak mendahulukan anaknya daripada dirinya sendiri. Sehingga Ketika berdoa disertai rasa sayang yang tulus, mengakibatkan dikabulkan doanya.
Sejarah Hari Ibu
Untuk memahami lebih jauh tentang sejarah Peringatan Hari Ibu di Indonesia, perlu kita pahami bersama bahwa Peringatan Hari Ibu ternyata bukan saja merupakan hari peringatan untuk mengucapkan terimakasih atas jasa ibu yang begitu istimewa, namun Hari Ibu bertujuan untuk mendorong semua pemangku kepentingan dan masyarakat luas untuk memberikan perhatian dan pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai bidang pembangunan.
Hari ini, tanggal 22 Desember 2024 merupakan peringatan Hari Ibu di Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi perempuan Indonesia Hari Ibu selalu menjadi momen khusus. Tidak banyak yang mengetahui sejarah peringatan Hari Ibu di Indonesia yang jatuh pada setiap tanggal 22 Desember ini. Sejarah Hari Ibu berawal dari pertemuan pertama organisasi perempuan yang dikenal dengan nama Kongres Perempuan Indonesia pertama yang dilaksanakan pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta di sebuah gedung Dalem Joyodipuran milik Raden Tumenggung Joyodipero.
Kongres Perempuan Indonesia I dihadiri oleh sekitar 1, 000 orang yang terdiri dari 30 organisasi perempuan dari Jawa dan Sumatera, digagas oleh tujuh organisasi perempuan, yang diketuai oleh RA Soekonto. Selain itu, kongres juga dihadiri perwakilan dari organisasi laki-laki seperti Budi Utomo, Muhammadiyah, Partai Nasional Indonesia, dan lain lain. Tujuan diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia I adalah mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan wanita Indonesia. Kongres ini merupakan tonggak sejarah penting dalam perjuangan perempuan Indonesia. Dalam kongres tersebut, para perempuan Indonesia berjuang untuk kesetaraan, hak pendidikan, dan hak suara politik bagi perempuan.
Sejarah mencatat bahwa, Peringatan Hari Ibu diawali dengan adanya penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22 – 25 Desember 1928 di Ndalem Joyodipuran Yogyakarta (sekarang, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Budaya). Sebelumnya, sudah ada beberapa pahlawan wanita yang gigih memperjuangkan hak-hak perempuan. Sebut saja R.A Kartini dan Dewi Sartika. Mereka bahkan mendirikan sekolah khusus agar perempuan bisa sejajar dengan laki-laki dalam aspek pendidikan.
Namun, 22 Desember 1928—setelah diadakan Kongres Perempuan Indonesia I merupakan titik di mana perempuan Indonesia mulai masuk ke ranah perjuangan politik praktis. Sebuah gerakan yang sebelumnya tabu bagi seorang perempuan, kini mulai digerakkan secara aktif demi hak-haknya. Masih berada pada zaman kolonial Belanda, Kongres Perempuan menuntut perubahan kedudukan kaum perempuan di dalam budaya patriarki. Perempuan masih menjadi pihak yang ditindas dan dikekang oleh berbagai struktur sosial pada masa itu.
Lantas, kongres itu rutin dilaksanakan, sampai akhirnya pada Kongres Perempuan Indonesia III ditetapkan bahwa Hari Ibu diperingati secara nasional pada tanggal 22 Desember. Kongres ketiga ini dilaksanakan di Bandung pada tanggal 23 – 28 Juli 1938, dan dipimpin oleh Ny Emma Puradireja. Tak hanya penetapan Hari Ibu, Kongres Perempuan Indonesia III juga menghasilkan sejumlah resolusi, di antaranya adalah penyusunan RUU perkawinan modern.
Oleh sebab itu, untuk menghargai jasa para tokoh perempuan dan para ibu di Indonesia, hari pertama penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia I pada tanggal 22 Desember 1928 ditetapkan sebagai Hari Ibu dan kemudian oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang bukan Hari Libur, Pemerintah telah meresmikan Hari Ibu menjadi hari nasional.
PERINGATAN HARI IBU
Peringatan Hari Ibu bertujuan untuk menghargai jasa para perempuan atau para ibu secara keseluruhan di Indonesia. Selain itu, peringatan ini juga bermaksud untuk mengingat kembali hari kebangkitan dan persatuan perjuangan kaum perempuan semasa kemerdekaan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Hari Ibu juga menjadi momentum untuk mengingatkan seluruh bangsa Indonesia bahwa perempuan adalah motor penggerak keberhasilan pembangunan saat ini dan mendatang.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia merupakan momen penting untuk menghargai jasa serta pengorbanan seorang ibu. Peranan ibu dalam kehidupan seseorang tidak bisa digambarkan lagi. Sejak mengandung, melahirkan, sampai anak itu dewasa, ibu merupakan sosok yang tidak pernah berubah. Berbeda dengan Mother’s Day yang diperingati di manca negara, Peringatan Hari Ibu yang diperingati secara Nasional di Indonesia memiliki tanggal yang berbeda dengan Hari Ibu Internasional (mother’s day).
Hari Ibu Nasional di Indonesia berakar pada Kongres Perempuan Indonesia pertama yang diadakan pada 22 Desember 1928. Kongres ini menjadi tonggak sejarah penting dalam perjuangan perempuan Indonesia untuk mendapatkan hak-haknya, baik dalam keluarga, masyarakat, maupun sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan bangsa. Oleh karena itu, Hari Ibu Nasional tidak hanya merayakan peran ibu dalam lingkup keluarga, tetapi juga menyoroti kontribusi perempuan secara luas dalam pembangunan dan kesejahteraan bangsa.
Sebaliknya, Mother’s Day di negara-negara seperti Amerika Serikat dan sebagian besar Eropa memiliki sejarah yang lebih personal. Perayaan ini bermula dari upaya Anna Jarvis pada awal abad ke-20 untuk mengenang ibunya dan menghormati semua ibu atas cinta dan pengorbanan mereka. Mother’s Day diperingati pada Minggu kedua di bulan Mei, tergantung pada negara yang merayakannya. Mother’s Day’s lebih berfokus pada penghargaan terhadap peran ibu dalam keluarga, sering kali dirayakan dengan memberikan hadiah, bunga, atau waktu istimewa bersama ibu sebagai bentuk kasih sayang.
Cara perayaan keduanya juga berbeda. Di Indonesia, Hari Ibu Nasional sering diisi dengan acara resmi seperti seminar, diskusi, atau kegiatan yang melibatkan perempuan sebagai agen perubahan sosial. Sementara itu, Mother’s Day cenderung dirayakan dengan kegiatan pribadi dan penuh kasih, seperti sarapan bersama keluarga, memberikan hadiah spesial, atau hanya sekadar momen refleksi untuk mengapresiasi ibu.
Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat menghormati kedua peringatan dengan cara yang lebih bermakna. Hari Ibu Nasional mengajarkan kita tentang peran penting perempuan dalam sejarah bangsa, sedangkan Mother’s Day mengingatkan kita untuk lebih dekat dan berterima kasih kepada ibu kita atas semua pengorbanannya. Keduanya memberikan pesan penting bahwa peran seorang ibu, dalam berbagai aspek kehidupan, selalu layak untuk dihormati dan dihargai.
TEMA HARI IBU TAHUN 2025
Berdasarkan pengumuman resmi Kementrian PPPA, tema yang diusung untuk Peringatan Hari Ibu tahun 2025 adalah “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045“.
Adapun makna tema tersebut adalah:
- Perempuan Berdaya
Perempuan yang memiliki kekuatan, kemampuan, keterampilan, serta kebebasan untuk mengambil keputusan. Perempuan berperan aktif dalam kehidupan sosial, melawan ketidakadilan dan diskriminasi gender, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa. - Perempuan Berkarya
Perempuan yang mengembangkan kemampuan, kreativitas, dan inovasinya untuk menghasilkan karya yang bermanfaat, berkualitas, dan berkelanjutan. Melalui karya, perempuan tidak hanya berpartisipasi dalam pembangunan, tetapi juga menjadi penggerak perubahan sosial, ekonomi, dan budaya di lingkungannya.
Menuju Indonesia Emas 2045
Perempuan yang berdaya dan berkarya menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung terwujudnya visi Bangsa dan Negara RI sebagai negara yang berdaulat, maju, adil, dan makmur pada tahun 2045.
Empat Subtema Pendukung Peringatan Hari Ibu Tahun 2025
Kementerian PPPA juga menetapkan empat subtema turunan yang dapat diadopsi dalam berbagai kegiatan peringatan hari Ibu Tahun 2025. Keempat subtema tersebut yaitu:
- Perempuan Giat, Ekonomi Kuat
- Perempuan Peduli, Masyarakat Harmoni
- Perempuan Hebat, Anak Sehat Berprestasi
- Akhiri Kekerasan, Perempuan Aman
Makna Peringatan Hari Ibu
Peringatan hari ibu merupakan salah satu momen terbaik yang perlu diabadikan, momen ini merupakan tonggak sejarah bangsa Indonesia untuk memproklamasikan ke negara lain di dunia. Pentingnya peran ibu untuk membangun bangsa ini karena setiap tahun diperingati perayaan hari ibu yang tidak hanya merayakannya saja tetapi dengan kesempatan ini, kita dapat melakukan refleksi untuk lebih menghormati, merenung, dan menghargai setiap pengeorbanan yang telah dilakukan tanpa batas.
Cinta tanpa batas seorang ibu karena sosok ibu tidak hanya memberikan cinta dan kasih sayang terhadap anaknya melainkan ibu juga memberikan nilai moral, mengajarkan nilai nilai kehidupan dan memberikan semua dukungan yang tidak akan tergantikan sampai kapan pun.
Peringatan hari ibu merupakan penghormatan yang dilakukan tanpa pamrih yang ditunjukkan oleh sosok ibu. Ibu tidak hanya berperan di rumah tetapi juga menjalankan peran lainnya secara menyeluruh dan berkonstribusi penuh untuk anaknya. Ibu bisa mencari nafkah, penasehat pendidik, pendengar yang baik dan lainnya.
Esensi peringatan hari ibu sangat berpengaruh sebagai pembelajaran seumur hidup yang memiliki banyak nilai positif yang diberikan ibu kepada anaknya. Sosok ibu memberikan nilai positif yaitu tentang kejujuran, tidak mudah menyerah semangat, memiliki rasa tanggung jawab. Sosok ibu dapat membentuk karakter anaknya di masa depan.
Peringatan hari ibu bukan saja tentang memberikan hadiah atau bunga tetapi bisa menjadi momen refleksi diri dan mengingat nilai nilai moral yang diajarkan oleh ibu. Peringatan hari ibu menjadikan kita lebih menghargai sosok ibu dan menyadari bahwa banyak pengorbanan dan dedikasi yang telah diberikan oleh ibu kepada anaknya.
Menghargai peran perempuan yang menjadi sosok yang harus dihormati dan dihargai di masyarakat. Banyak figure Perempuan yang berperan penuh terhadap pendidikan dan memperjuangkan kebaikan bagi banyak orang.
Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember adalah salah satu hari yang banyak menyita perhatian, tapi apa makna hari ibu sebenarnya. Tentunya tiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang hari ibu. Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya.
Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebastugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Banyak diantara kita memaknai hari ibu dengan memberikan penghargaan kepada ibu mereka baik berupa ucapan selamat maupun berupa kado.
Tapi apakah ucapan selamat dan kado ini cukup untuk membuktikan bahwa kita telah berbakti kepada ibu kita? Semua agama mengajarkan hal yang sama bahwa sebagai anak kita mempunyai kewajiban berbakti kepada ibu kita, jadi kita mengingat dan menyayangi ibu tidak hanya pada saat peringatan hari Ibu saja, namun setiap saat kita harus menyayangi dan menghormati Ibu yang telah menempuh perjuangan begitu panjang, mulai saat anaknya dilahirkan, dirawat dan dibesarkan, dididik dengan penuh kasih sayang dan tidak pernah mengenal lelah, sampai mengantarkan anaknya ke gerbang kesuksesan dalam hidupnya. Dengan demikian, sebagai seorang anak, kita harus menyadari betapa ibu kita telah memperjuangkan dan menyayangi kita lebih dari apapun di dunia ini.
Peringatan Hari Ibu di Indonesia sesungguhnya mengandung makna yang lebih agung dari sekadar romantisme perayaan belaka. Hari Ibu bukan hanya diperuntukan bagi para ibu dalam arti harfiah saja melainkan juga untuk seluruh perempuan Indonesia. Selaras dengan sejarah ditetapkannya, misi awal peringatan Hari Ibu ditujukan untuk mengenang semangat dan perjuangan perempuan Indonesia dalam meningkatkan kualitas bangsa. Perayaan tersebut juga sekaligus menjadi cerminan semangat kaum perempuan yang mampu bersatu untuk memajukan negara.
Namun, seorang ibu tak boleh melupakan tugas utamanya sebagai pendidik. Disematkan gelar ibu karena ada generasi yang harus ia besarkan.
Para ibu di zaman sekarang harus memahami tugas besar ini. Sebagai subjek, ibu berhadapan dengan anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya.
Peringatan Hari Ibu bukan saja peringatan untuk mengucapkan terima kasih atas jasa para ibu yang begitu istimewa bagi seluruh masyarakat Indonesia, tetapi lebih dari itu. Peringatan Hari Ibu bertujuan mendorong semua pemangku kepentingan dan masyarakat luas untuk memberikan perhatian dan pengakuan akan pentingnya eksistensi perempuan dalam berbagai sektor pembangunan.
Banyak di antara kita memaknai hari ibu dengan memberikan penghargaan kepada ibu mereka baik berupa ucapan selamat maupun berupa kado. Tapi apakah ucapan selamat dan kado ini cukup untuk membuktikan bahwa kita telah berbakti kepada ibu kita. Hari ibu seharusnya tidak hanya diperingati pada tanggal 22 Desember saja, tapi diperingati tiap hari. Agar sebagai seorang anak kita sadar betapa ibu kita telah memperjuangkan dan menyayangi kita lebih dari apapun di dunia.
Ibu adalah sesosok figure yang memperlihatkan keanggungan dan kasih sayang yang tidak bisa diukur dengan apapun dan sudah sepantasnya kita selalu menanamkan kepada diri untuk berbakti kepada ibu. Syurga ada di telapak kaki ibu, doa seorang ibu sangat makrifat bagi anak-anaknya.
Dalam Islam, banyak ajaran yang memerintahkan umatnya untuk menyintai dan menghormati sosok ibu. Lebih jelasnya simak sejumlah dalil hadis Nabi Muhammad SAW terkait dengan memuliakan ibu.
Ibu dan ayah
Dalam hadis Rasulullah SAW mengisyaratkan agar berbakti kepada ibu tiga kali lebih besar daripada berbakti kepada ayah. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Abi Hurairah ra yang menceritakan bahwa suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Rasulillah SAW untuk menanyakan terkait seorang ibu.
مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَإِلَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : أَمكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : أَمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ أَبُوكَ
“Siapakah di antara manusia yang paling berhak kami sikapi dengan baik?”
Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Siapa lagi setelah itu?”
Nabi menjawab, “Ibumu.”
|
Baca juga:
Flying Fox: Petualangan Seru di Udara
|
Orang itu bertanya lagi, “Siapa lagi setelah itu?”
Nabi menjawab, “Ibumu.”
Orang itu bertanya lagi, “Siapa lagi setelah itu?”
Nabi kemudian menjawab, “Ayahmu.”
Tidak sampai di sana, kemuliaan seorang ibu pernah disinggung dalam hadis lain. Rasulullah SAW juga bersabda bahwa seorang ibu diakui sangat mulia sebagaimana ditegaskan dalam hadis yang diriwayatakan dari Anas bin Malik RA.
الْجَنَّهُ تَحْتَ أَقْدَامِ الأُمَّهَاتِ
“Surga itu di bawah telapak kaki ibu.”
Berbagai Hadits dan dalil-dalil menjadi landasan kuat bahwa doa orang tua untuk anaknya akan dikabulkan Allah SWT alias tidak tertolak. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita harus berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu.
Namun masih ada seorang ibu yang menjadi korban mendapat kekerasan dan perlakuan yang tidak baik dari seorang suami dalam rumah tangganya dan kertika anak-anak telah tumbuh dewasa dan telah diantarkan ibundanya ke gerbang kesuksesan, tidak sedikit juga seorang ibu yang mendapatkan perlakuan yang tidak layak dari anak-anaknya yang berujung dititipkannya ibunya ke panti jompo.
Sayyid Muhammad melanjutkan dalam karyanya bahwa ungkapan Nabi SAW seperti surga di bawah telapak kaki ibu menjadikan kita umatnya yang ingin menggapai surga bisa tersampaikan jika mereka menempuh jalan birrul walidain atau berbakti orangtua, berkhidmah kepada mereka, terkhusus kepada ibu.
Dengan menempuh jalan birrul walidain secara absolut dan tanpa kita sadari sebagai umat kita sudah menjalankan perintah Nabi dengan taat, cinta, dan kasih sayang.
Jadi, Peringatan Hari Ibu bukan sekadar hari untuk mengucapkan “terima kasih” kepada ibu kita. Hari Ibu merupakan suatu bentuk apresiasi kepada para perempuan Indonesia yang sudah memperjuangkan hak-haknya sampai detik ini.@Red.
Oleh: Prof. (HCUA) Dr. Mia Amiati, S.H., M.H., CMA., CSSL.

Salsa