Prof. Mia Amiati: Memaknai Peringatan Isra’ Mi’raj

    Prof. Mia Amiati: Memaknai Peringatan Isra’ Mi’raj

    Jakarta - Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang sangat luar biasa bagi umat Islam karena turunnya perintah wajib salat lima waktu dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan hingga ke Sidratul Muntaha. Allah SWT memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya secara langsung kepada Rasulullah SAW.

    Isra’ Mi’raj 1447 Hijriah jatuh pada Jum’at, 16 Januari 2026. Peristiwa ini merupakan salah satu momen penting bagi umat Muslim di seluruh dunia. Pada Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan suci yang menunjukkan salah satu bukti kebesaran Allah SWT.

    Peristiwa Isra Mi’raj memiliki makna mendalam bagi umat Muslim. antara lain:

    1. Perintah Salat Lima Waktu

    Isra Mi’raj merupakan simbol bahwa salat lima waktu adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap umat Muslim di seluruh dunia.

    2. Peringatan Surga dan Neraka

    Dalam peristiwa ini, Nabi Muhammad SAW diperlihatkan surga dan neraka, sebagai peringatan agar umatnya menjauhi larangan Allah SWT.

    Peristiwa ini juga memperkuat keimanan terhadap kekuasaan Allah SWT yang Maha Berkehendak.

    Isra Mi’raj juga mengajarkan bahwa setiap cobaan yang diberikan oleh Allah SWT memiliki jalan keluar. Dengan berserah diri dan memperkuat keyakinan, umat Muslim dapat meningkatkan keimanan mereka.

    Bagi umat Islam, peristiwa Isra Miraj merupakan peristiwa yang berharga dan terdapat nilai-nilai signifikan bagi sebuah kepemimpinan, antara lain:

    Pertama, sebagaimana tercermin dari ayat yang mengemukakan peristiwa Isra’ Mi’raj, menggambarkan dalam sebuah kepemimpinan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menjaga (akhlaqul karimah). Dalam konteks keindonesiaan menjaga, integritas moral.

    Kedua, selain integritas moral, yang tidak kalah pentingnya adalah belajar kepada sejarah. Dalam ungkapan kaidah fiqh, ”Memelihara nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik” (Al-muhafazah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah).

    Ketiga, diharapkan sebuah kepemimpinan dapat berjalan dengan benar dan tidak mudah terpincut godaan, sebagaimana teladan yang dicontohkan Nabi ketika melakukan Mi’raj-nya. Kepemimpinan yang demikian hanya dimungkinkan, manakala seluruh aparaturnya tegak lurus dalam melaksanakan keadilan (al-‘adallah), dengan bersikap konsisten dan disiplin (istiqamah) dan dapat dipercaya (amanah).

    Memaknai Perjalanan Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra Miraj terdapat beberapa nilai bagi sebuah kepemimpinan yang dapat kita teladani yaitu mengajarkan kesabaran dan kecintaan kepada Allah; Menjaga integritas moral (akhlakul karimah);

    Untuk mewujudkan sikap menjaga integritas moral dapat dilakukan dengan reformasi moral yang dimulai dari tingkat aparaturnya dan bagi seorang Pemimpin, kebijakan pemimpin itu akan senantiasa berlandaskan pada kemaslahatan untuk rakyatnya dan membumi kepada kepentingan rakyat sebagaimana sikap keteladanan Rasulullah SAW.@Red.

    Oleh: Prof. (HCUA) Dr. Mia Amiati, S.H., M.H., CMA., CSSL. 

    Salsa

    Salsa

    Artikel Sebelumnya

    Rayakan Harlah Serikat Karyawan, Perhutani...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Dr. Hendri: Tidak Ada Yang Salah dengan Pilkada Langsung, Mental Politisinya Saja yang Korup!
    Kodaeral X TNI AL Bentuk X Point UMKM Sebagai Wadah Strategis Pemberdayaan  Ekonomi Masyarakat
    Rayakan Harlah Serikat Karyawan, Perhutani Banyuwangi Barat Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Donor Darah
    Perhutani Padangan Gelar Sosialisasi Penerapan K3L pada Lokasi Tebangan
    Peringati Harlah Sekar ke-21, Perhutani Bagikan Ratusan Paket Makanan Bergizi pada Masyarakat

    Ikuti Kami