Banyuwangi Barat – Perum Perhutani KPH Banyuwangi Barat menyambut dengan baik kunjungan kerja Wakil Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi dalam rangka menjalin sinergitas diruang kerja Administratur KPH Banyuwangi Barat, jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 34 Banyuwangi, pada Kamis (16/01/2026).
Sunrise of Java Award adalah penghargaan tahunan yang diselenggarakan oleh Jawa Pos Radar Banyuwangi, sebagai bentuk apresiasi kepada individu, instansi, dan lembaga di Banyuwangi yang dinilai berkontribusi signifikan dalam memajukan berbagai sektor, seperti pemerintahan, pendidikan, kesehatan, seni, budaya, dan lingkungan, serta memunculkan tokoh-tokoh inspiratif untuk mendorong kemajuan daerah.
Dalam kunjungan tersebut Wadir Radar Banyuwangi, H Sidrotul Muntaha menyampaikan kunjungan pihaknya ini dalam rangka Radar Banyuwangi mempunyai kegiatan yang bernama Sunrise Of Java (SOJ) Awards tahun 2026 dan ini tahun ke empat yang dilaksanakan dalam rangka Hari Pers Nasional.
“Ada 35 tokoh baik itu dari pemerintahan, instansi, pengusaha, dari seni, tokoh pendidikan, tokoh kesehatan lengkap kita ambil, tokoh tokoh itu tentu melalui saringan yang cukup terbuka untuk siapa yang dipilih dan siapa yang pantas dari dari 35 tokoh itu salah satunya adalah Adm KPH Banyuwangi Barat dari sisi pengelolaan dan pemanfaatan hutan, ” tutur H Sidrotul Muntaha.
Kepala Perhutani (Administratur) KPH Banyuwangi Barat, Muklisin menyampaikan bahwa ini sebuah kehormatan baginya secara pribadi menjadi salah satu penerima SOJ Awards dan mengucapkan terima kasih, mudah mudahan tidak menjadikan tinggi hati tapi justru menjadikan untuk terus memberikan manfaat bagi masyarakat Banyuwangi.
“Atas nama Perhutani KPH Banyuwangi Barat disampaikan terima kasih terhadap apresiasi dari Jawa Pos Radar Banyuwangi, saya berharap nanti sinergi bisa terus berjalan dengan baik, bahkan dulu pernah kita dukung kegiatan Radar Banyuwangi dalam kegiatan Ekspedisi Mata Air, ” ujar Muklisin.
“Perhutani telah memberikan kontribusi nilai tambah pendapatan masyarakat disekitar hutan yang sangat besar, contohnya dari agroforestry jagung 2.000 ha dalam 1 tahun panen minimal 2 ton dengan harga jagung minimal Rp 2000, -/kg berarti pertahun kurang lebih Rp 8 milyar dan itu berkelanjutan, ” jelasnya.
“Dari hasil kopi dalam kawasan hutan terdapat 4.000 ha penghasilan minimal dalam per hektar 1 ton dengan harga minimal kopi gelondong basah Rp 15.000, - kurang lebih Rp 60 milyar, ” imbuhnya.
“Kita juga selalu memberikan edukasi pada masyarakat terkait dengan pemanfaatan hutan agar tidak melanggar hukum dan memenuhi kewajiban kepada Negara seperti PNBP dan sharing, artinya bahwa Perhutani dalam pengelolaan hutan lestari dan memberikan manfaat sebesar besarnya bagi masyarakat, ” pungkasnya.@Red.

Salsa